Merawat Bumi dengan Cinta, BDK Manado Gaungkan Ekoteologi dalam Kurikulum Berbasis Cinta
Selfy
Penulis
Rabu, 09 Sep 2026
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata, pendidikan dituntut tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap sesama dan alam. Berangkat dari semangat itulah, Balai Diklat Keagamaan Manado menggelar Webinar bertema “Ekoteologi dalam Pelestarian Lingkungan dalam Kurikulum Berbasis Cinta”, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Balai Diklat Keagamaan Manado ini mendapat sambutan antusias dari peserta berbagai kalangan. Para pendidik, pemerhati lingkungan, serta sejumlah pejabat dari berbagai lembaga turut hadir dalam ruang belajar bersama yang mengangkat pentingnya membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan.
Webinar dibuka secara resmi oleh Kepala BDK Manado, Khaeroni. ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berbicara tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana menumbuhkan nilai dan membentuk karakter.
Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta memiliki peran penting dalam menghadirkan pendidikan yang lebih utuh dan bermakna. Nilai cinta perlu ditanamkan dalam diri peserta didik, tidak hanya dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga terhadap alam sebagai ciptaan-Nya.
“Pendidikan yang berakar dari nilai cinta diharapkan mampu melahirkan generasi yang mencintai Tuhan, mencintai sesama, serta mencintai dan menjaga alam ciptaan-Nya.”
Khaeroni menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi bagian dari kesadaran dan karakter. Sebab, mencintai lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan nyata.
Muhammad Anwar selaku narasumber mengajak peserta memandang alam dari perspektif ekoteologi. menurutnya, Alam tidak hanya hadir sebagai ruang kehidupan dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia, tetapi juga menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Pemahaman tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran bahwa menjaga lingkungan memiliki dimensi spiritual, moral, dan kemanusiaan. Manusia tidak hanya dituntut memanfaatkan alam, tetapi juga memikul tanggung jawab untuk merawat dan melestarikannya.
Melalui pendidikan, nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan secara berkelanjutan. Sekolah dan lembaga pendidikan diharapkan menjadi ruang tumbuhnya generasi yang memahami bahwa setiap tindakan terhadap lingkungan memiliki dampak bagi kehidupan hari ini dan masa depan.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari persoalan nilai. Ketika cinta kepada Tuhan, sesama, dan alam tumbuh dalam kesadaran manusia, maka menjaga bumi bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan menjadi bagian dari cara manusia memaknai kehidupannya.
Melalui webinar ini, BDK Manado berharap nilai-nilai ekoteologi dapat semakin terintegrasi dalam pendidikan dan Kurikulum Berbasis Cinta, sehingga melahirkan generasi yang tidak hanya beriman dan berilmu, tetapi juga memiliki kepedulian ekologis serta keberanian mengambil tindakan nyata untuk menjaga kelestarian bumi. Sebab merawat bumi bukan sekadar menjaga lingkungan, tetapi merawat kehidupan dengan cinta.
Editor
Selfy
Fotografer
Margaretha